ASSLAMU`ALAIKUM WAROHKMATULLAHI WABAROKATUH

FACEBOOK PAGES

SENGGOL AJA DEH !!

TRIMAKASIH MAU MENGUNJUNGI BLOG JELEKKU.

Semoga bermanpaat bagi kita semua dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan Terutama Tentang islam

KUNJUNGI JUGA DI>>

Salam Ukhuwah selalu dariku

Von Edison Alouisci

GRATIS PROMO.MASUKAN LINK ANDA DISINI

Friday, April 27, 2018

WAHABI PENGIKUT DAJAL

Posted by VON EDISON ALOUISCI 6:14 PM, under | No comments

WAHABI PENGIKUT DAJJAL

.

Oleh Von Edison Alouisci

.

To the point

.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda,

.

)) ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﺑَﻠَﺪٍ ﺇِﻻَّ ﺳَﻴَﻄَﺆُﻩُ ﺍﻟﺪَّﺟﺎَّﻝُ، ﺇِﻻَّ ﻣَﻜَّﺔَ ﻭَﺍْﻟﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻧَﻘَﺐٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻘَﺎﺑِﻬﺎَ

ﺇِﻻَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ ﺣَﺎﻓِّﻴْﻦَ، ﺗَﺤْﺮُﺳُﻬﺎَ، ﻓَﻴَﻨْﺰِﻝُ ﺑِﺎﻟﺴَّﺒْﺨَﺔِ، ﻓَﺘَـﺮْﺟُﻒُ ﺍْﻟﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ ﺑِﺄَﻫْﻠِﻬَﺎ ﺛَﻼَﺙَ

ﺭَﺟَﻔَﺎﺕٍ، ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻨْﻬﺎَ ﻛُﻞُّ ﻛَﺎﻓِﺮٍ ﻭَﻣُﻨَﺎﻓِﻖٍ )) ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ).

.

“Tidak ada sebuah kota pun di bumi ini kecuali Dajjal akan memasukinya, selain Makkah dan Madinah. Tidakada jalan setapak pun padanya, kecuali disitu ada malaikat yang berkumpul menjaganya. Lalu Dajjal itu mendatangi Sabkhah (sebuah dataran penuh dengan

pasir). Disana ia menghentakkan kakinya tiga kali,maka keluarlah dari kota Madinah seluruh orang kafir

dan munafiq yang ada.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

.

Sedangkan dalam hadits Abu Umamah, dariRasulullah SAW beliau bersabda,

.

)) ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﺷَﻲْﺀٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺭْﺽِ ﺇِﻻَّ ﻭَﻃَﺌَﻪُ ﻭَﻇَﻬَﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﺇِﻻَّ ﻣَﻜَّﺔَ ﻭَﺍْﻟﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ، ﻻَ

ﻳَﺄْﺗِﻴْﻬِﻤَﺎ ﻣِﻦْ ﻧَﻘَﺐٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻘﺎَﺑِﻬﺎَ ﺇِﻻَّ ﻟَﻘِـﻴَﺘْﻪُ ﺍْﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ ﺑِﺎﻟﺴُّﻴـُّﻮْﻑِ، ﺻَﻠَّﺘْﻪُ، ﺣَﺘﻰَّ ﻳَﻨـْﺰِﻝَ

ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻀَّﺮِﻳْﺐِ ﺍْﻷَﺣْﻤَﺮِ، ﻋِﻨْﺪَ ﻣُﻨْﻘَﻄِﻊِ ﺍﻟﺴَّﺒْﺨَﺔِ، ﻓَﺘَـﺮْﺟُﻒُ ﺍْﻟﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ ﺑﺄَِﻫْﻠِﻬﺎَ ﺛَﻼَﺙَ ﺭَﺟَﻔَﺎﺕٍ،

ﻓَﻼَ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﻓِﻴْﻬﺎَ ﻣُﻨﺎَﻓِﻖٌ ﻭَﻻَ ﻣُﻨﺎَﻓِﻘَﺔٌ ﺇِﻻَّ ﺧَﺮَﺝَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ، ﻓَـﺘَﻨْﻔِﻲ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴْﺚَ ﻣِﻨْﻬﺎَ، ﻛَﻤﺎَ ﻳَﻨْﻔِﻲ

ﺍْﻟﻜِﻴْﺮُ ﺧُﺒْﺚَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺪِ، ﻭَﻳُﺪْﻋَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺍْﻟﻴَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺨَﻼَﺹَ، ﻗِﻴْﻞَ ﻓَﺄَﻳْﻦَ ﺍْﻟﻌَﺮَﺏُ ﻳَﻮْﻣِﺌِﺬٍ؟ ﻗَﺎﻝَ :

ﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻣِﺌِﺬٍ ﻗَﻠِﻴْﻞٌ …)) ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺧﺰﻳﻤﺔ ﻭﻫﻮ ﺻﺤﻴﺢ )

.

“Ketahuilah! Tidak ada sejengkal tanah pun di muka

bumi ini kecuali akan dilewati Dajjal. Yang tidak dimasukinya hanyalah Makkah dan Madinah. Ketika dajjal mendatangi keduanya, tidak ada suatu jalan pun disana yang hendak dimasukinya, kecuali ia berhadapan dengan malaikat yang membawa pedang terhunus. Sehingga ia (putus asa dan) mendatangi dataran

merah pada penghujung Sabkhah dekat kota Madinah.

Lalu ia menghentakkan kakinya tiga kali, maka tidak terdapat seorang munafiq atau munafiqah di kota Madinah itu kecuali mereka keluar menghampiri dajjal tersebut. Sungguh! Kota Madinah telah membersihkan keburukan dajjal, seperti alat peniup api yang membersihkan buruknya besi. Hari itu dinamakan

dengan yaumul khalaash, yaitu hari bersihnya kota Madinah dari orang-orang munafiq.

.

Kemudian rasulullah ditanya: kemanakah orang arab di hari itu wahai rasulullah? Beliau menjawab: mereka di hari itu

sangat sedikit jumlahnya.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah, ini adalah hadits sahih).

.

Tahukah anda ?

.

Bahwa berapa kilomenter dari mesjid Nabawi ada sebuah bukit yg diatasnya telah dibangun sebuah Pasilitas yg jika dilihat dari udara berbentuk Mata Satu.Tempat ini disebut JABAL HABSY yg di rancang sedemikian rupa Oleh Pemerintah Arab Saudi seakan sengaja untuk menjemput Dajjal.

.

Jalan dr jabal habsy dibukit berpasir itu telah buat menuju mesjib nabawi.seperti telah dirancang untuk jalan keluar menuju bukit bagi kaum munafik.

.

DI jabal habsy sendiri segala pasilitas telah di bangun termasuk landasan helipad.

.

ADA APA INI ?

PERHATIKAN HADITS BERIKUT INI DI SEBUT JELAS TENTANG JABAL HABSY YG DI BANGUN OLEH PEMERINTAH ARAB SAUDI

.

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang

membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

.

Dari Abdullah ibn Shafeeq, daripada Muhjin ibn Adraa,

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda

kepada orang ramai;

"Hari Pembebasan, Hari pembebasan, Hari Pembebasan!"

dan mengulanginya tiga kali.

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ditanya oleh

seorang sahabat,

.

"Apakah Hari Pembebasan?"

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menjawab:

"Dajjal (penipu pada akhir zaman), Dajjal akan datang,

memanjat dan menetap di atas "JABAL HABSY', melihat ke

arah Madinah dan bertanya kepada para pengikutnya;

Adakah anda melihat Istana Putih itu? itu lah Masjid

Muhammad.

Kemudian Dajjal akan coba mendekati kota Madinah dan mencari jalan di setiap sudut tetapi malaikat menghalalangnya dengan pedang dan Dajjal akan sampai ke tanah lapang Al Jurf dan membuat kamp.

.

Madinah akan bergetar sebanyak 3 kali dan akan ada orang munafik lelaki atau wanita keluar untuk menyertai Dajjal, ini adalah

hari pembersihan"

(Hadis Sahih Shawahid oleh Sheikh Mustafa al 'Adawi dalam Sahih al Musnad, Hadis al Fitan (Jilid: 1991, m/s:496)

.

LIHAT !! HADITS DIATAS MENJELASKAN TENTANG JABAL HABSY !.

.

Dalam hadits lain menjelaskan siapa mereka ini

“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan,dari arah

Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-

orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi

yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “. (HR.Bukhari)

.

Para badui yang menggembalakan sapi dan unta ada dan terbanyak sedunia hanya diSaudi Arabiah. Dan tidak bisa menghindar dan mengelak lagi, bahwasanya kaum Rabi’ah

dan Mudhar hanya ada di Saudi Arabia.

.

Kaum badui pula pengikut Muhammad bin abdul wahab dimasa awal merampok hijaz bersama ibnu saud dari keturunan yahudi sehingga arab sebagai wilayah ke khalifahan menjadi KERAJAAN ARAB SAUDI menyalahi kaidah kepemimpinan DINASTI KHALIFAH yg telah di bangun sejak masa sahabat.

.

SADARKAH ANDA DGN PRUBAHAN INI SEHINGGA HIJAZ JD KERAJAAN BID'AH ?

.

Kolaborasi Muhammad bin abdul wahab dan ibnu saud trah yahudi tdk sampai hanya di situ.Mereka menjadikan golongan WAHABI sebagai MADZAB RESMI kerajaan,menghancurkan situ situs sejarah,membangun gedung gedung tinggi.

.

INI COCOK DGN HADITS KIAMAT SBB :

.

TANDA TANDA KIAMAT adalah byknya bangunan tinggi yg

akan muncul dimekkah...

.

".. yaitu, jika seorang ammah (hamba perempuan)

melahirkan majikannya, itulah yang termasuk di antara tanda-

tandanya.

.

Juga apabila orang-orang yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian menjadi pemimpin masyarakat,maka itu juga di antara tanda-tandanya.

.

Demikian pula apabila para pengembala kambing

berlomba-lomba MENINGGIKAN BANGUNAN

.

maka itulah salah satu tandanya di antara tanda-tanda yang lima, yang mana tidak mengetahui yang sesungguhnya selain Allah SWT.”

.

Kemudian baginda membacakan ayat berikut ini: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, serta mengetahui apa yang ada di dalam rahim" (Hadis Riwayat Ibn Majah)

.

Badui najd dimasanya terkenal sebagai pengembala

kambing,tdk beralas kaki dan lihat kini mereka kaum

wahaber mendirikan gedung tinggi,mewah mewahan "

.

Salah Satu bangunan FENOMENAL Terkenal adalah menara ABRAJ AL BAIT yg disinyalir Sebagai MENARA TANDUK SYETAN Persis dekat kabah di bawahnya ada hotel pasilitas super mewah.dgn layanan 24 jam,ada pelayanan khusus,mandi sauna dll..

.

Anda dapat lihat di

http://www.booking.com/hotel/sa/makkah-clock-royal-tower-a-fairmont.id.html

.

Bagi golongan WAHABI yg makan bareng dgn yahudi israel akan di beri DISKON disini . silahkan wahabi indonesia pesan tempat di link atas !.

.

Tower Abraj sendiri adalah kolaborasi yahudi krn faktanya pemilik hotel hotel mewah di bawahnya adalah milyuner YAHUDI ISRAEL. Lambang Abraj Al bait adalah lambang SYETAN LUCIFER bukan bulan bintang,dibawahnya nama ALLAH seakan ingin mengatakan bahwa Syetan Dajal menguasai Allah.

.

Inilah kaum munafikun akhir zaman kolaborasi wahabi yahudi. Dan saya berani bertaruh bahwa kerajaan arab saudi tdk akan pernah menyerang israel !

PERJANJIAN BALFOUR adalah contoh mengikat kesetiaan arab saudi dgn kaum kafir.

.

PERLU ANDA SADARI

Bahwa antara Aswaja dan Wahabi bukan hanya semata bicara perbedaan pemahaman agama tetapi juga masalah penghianatan terhadap islam secara politik dimana sejak adanya wahabi byk terjadi pembunuhan,terorisme,peperanga

n,ekpansi di negara islam yg dalam hal ini umat islam pula yg di rugikan.Golongan Wahabi sangat terlihat memusuhi umat Islam baik secara agama sebagai alasan memurnikan Islam maupun secara politik yg dalam hal ini kolaborasi tersembunyi dgn kaum kafir yahudi.Semua orang tahu bahwa salah satu negara mayoritas islam yg aktip kerjasama dgn kafir yahudi adalah Kerajaan bidah Arab saudi.

.

ANDA DI TUNTUT BERFIKIR CERDAS MEMAHAMI HAL INI.

.

by.Von Edison Alouisci

Kingstones street. 21.6.2016

.

Fp. www.facebook.com/von.edison.alouisci

NAJD BUKAN IRAK TETAPI MEMANG TEMPAT PENDIRI WAHABI TANDUK SYETAN

Posted by VON EDISON ALOUISCI 6:09 PM, under | No comments

NAJD BUKAN IRAQ TETAPI MEMANG TEMPAT KELAHIRAN PENDIRI WAHABI TANDUK SYETAN

Oleh Von Edison Alouisci

Untuk memahami hal ini saya aja anda mengamati hadits hadits yang berkaitan dgn timur yang di maksud Rasulullah sebagai tempat fitnah

Hadits 1.

.

ﻭﺣﺪﺛﻨﻲ ﺣﺮﻣﻠﺔ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﻭﻫﺐ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻳﻮﻧﺲ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﻋﻦ ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻫﺎ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﻫﺎ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﻫﺎ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

.

Hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari 4/181 no 3511 dan Sunan Tirmidzi 4/530 no 2268 dengan jalan dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Salim dari ayahnya secara marfu’. Az Zuhri memiliki mutaba’ah yaitu Hanzalah bin ‘Abi Sufyan sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 2980 dengan jalan dari Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah dari Salim dari ayahnya secara marfu’.kemudian Az Zuhri juga memiliki mutaba’ah dari Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dengan sanad yang shahih. Dan dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari ayahnya Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905. Dan dari Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad yang shahih. Az Zuhri, Ikrimah bin ‘Ammar, Hanzalah, Fudhail dan Umar bin Muhammad semuanya meriwayatkan dari Salim dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari Timur.Salim bin ‘Abdullah bin Umar memiliki mutaba’aah dari Nafi’ dan ‘Abdullah bin Dinar. Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905, Musnad Ahmad 2/18 no 4679 dan Musnad Ahmad 2/91 no 5659.

.

Hadits 2.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻟﻴﺚ ﺡ ﻭﺣﺪﺛﻨﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺭﻣﺢ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

.

Diriwayatkan dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Al Muwatta 2/975 no 1757, Musnad Ahmad 2/73 no 5428, Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 dan Shahih Bukhari 4/123 no 3279

.

Hadits 3.

.

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻣَﺴْﻠَﻤَﺔَ ﻋَﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺩِﻳﻨَﺎﺭٍ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺸِﻴﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮِﻕِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫَﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔَ ﻫَﺎ ﻫُﻨَﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔَ ﻫَﺎ ﻫُﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻳَﻄْﻠُﻊُ ﻗَﺮْﻥُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ

.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Bukhari 4/123 no 3279]

.

Sebagaimana yang terlihat Salim bin ‘Abdullah, Nafi’ dan Abdullah bin Dinar semuanya meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari timur dari arah munculnya tanduk setan. Secara zahir jelas arah yang dimaksud adalah tepat arah timur Madinah yaitu arah matahari terbit karena dari arah itulah munculnya tanduk setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

.

Hadits 4.

.

ﻗﺎﻝ ﺻﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺼﺒﺢ ﺛﻢ ﺃﻗﺼﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﻄﻠﻊ ﺣﻴﻦ ﺗﻄﻠﻊ ﺑﻴﻦ ﻗﺮﻧﻲ ﺷﻴﻄﺎﻥ

[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kerjakanlah shalat shubuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit diantara dua tanduk setan. [Shahih Muslim 1/569 no 832]

.,

Hal ini juga selaras dengan hadits shahih yang menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya mengucapkan “fitnah datang dari sini”. Hadits tersebut telah diriwayatkan dengan jalan yang shahih dari Uqbah bin Abi Shahba’ dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Ahmad 2/72 no 5410

.

Hadits 5.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻲ ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺳﻌﻴﺪ ﻣﻮﻟﻰ ﺑﻨﻰ ﻫﺎﺷﻢ ﺛﻨﺎ ﻋﻘﺒﺔ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺼﻬﺒﺎﺀ ﺛﻨﺎ ﺳﺎﻟﻢ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺛﻢ ﺳﻠﻢ ﻓﺎﺳﺘﻘﺒﻞ ﻣﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻻ ﺍﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﺃﻻ ﺍﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻬﻨﺎ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

Hadits ini sanadnya shahih. Telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat [terpercaya]. Abu Sa’id mawla bani hasyim adalah Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ubaid Al Bashri. Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ath Thabrani, Al Baghawi, Daruquthni dan Ibnu Syahin menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 429]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang yang hafizh dan tsiqat [Al Kasyf no 3238]. Uqbah bin Abi Shahba’ telah dinyatakan Ahmad bin Hanbal sebagai seorang syaikh yang shalih. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/312 no 1738]. Hadits ini dengan jelas menyebutkan kalau arah yang dimaksud adalah arah timur yaitu arah matahari terbit.

.

HADITS DENGAN LAFAZ NAJD

.

Kemudian telah disebutkan dengan sanad yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau tempat yang dimaksud adalah Najd. Diriwayatkan dari Husain bin Hasan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 2/33 no 1037] dan dari Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]

.

Hadits 6.

.

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﺜَﻨَّﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣُﺴَﻴْﻦُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦِ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﻮْﻥٍ ﻋَﻦْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺷَﺎﻣِﻨَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﻳَﻤَﻨِﻨَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻓِﻲ ﻧَﺠْﺪِﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺷَﺎﻣِﻨَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﻳَﻤَﻨِﻨَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻓِﻲ ﻧَﺠْﺪِﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﺍﻟﺰَّﻟَﺎﺯِﻝُ ﻭَﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻭَﺑِﻬَﺎ ﻳَﻄْﻠُﻊُ ﻗَﺮْﻥُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

.

Hadits ini menjelaskan kalau tempat munculnya fitnah yang dimaksud adalah Najd dan Najd memang terletak tepat di timur Madinah pada arah matahari terbit dari Madinah. Najd yang dimaksud dalam hadits ini adalah Najd yang memang sudah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam salah satu hadits shahih bahwa Yamamah termasuk Najd dan penduduknya dari bani hanifah termasuk penduduk Najd.

.

Hadits 7.

.

ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻌﺚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻴﻼ ﻗﺒﻞ ﻧﺠﺪ ﻓﺠﺎﺀﺕ ﺑﺮﺟﻞ ﻣﻦ ﺑﻨﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺛﻤﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺁﺛﺎﻝ ﺳﻴﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻴﻤﺎﻣﺔ ﻓﺮﺑﻂ ﺑﺴﺎﺭﻳﺔ ﻣﻦ ﺳﻮﺍﺭﻱ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻣﺨﺘﺼﺮ

.

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salah satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

.

Salafy-wahaby melakukan pembelaan dengan mencatut hadits-hadits yang menunjukkan bahwa tempat yang dimaksud adalah Iraq.kelihatan sekali mereka ini ketakutan dan dalam ketakutan malahan masih pula memfitnah iraq.!!

Secara zahir, Iraq tidak terletak di arah timur Madinah. Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari Madinah, Iraq terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara. Jadi dari segi matan sudah jelas hadits Iraq bermatan mungkar karena bertentangan dengan dalil shahih dan fakta yang ada.

.

Salafy-wahaby jahil mencatut para ulama seperti Al Khattabi, Al Kirmany dan Syaikh Mahmud Syukri Al Alusy. padahal pendapat ulama tidak menjadi hujjah jika bertentangan dengan dalil yang shahih. Ditambah lagi terdapat ulama yang justru menyatakan bahwa arah timur yang dimaksud terletak tepat di timur Madinah, Ibnu Hibban setelah mengutip hadits tanduk setan tersebut menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]. Tidak diragukan lagi tempat keluarnya Musailamah ini adalah Najd dan ia sendiri termasuk penduduk Najd.

HADITS DENGAN LAFAZ IRAK

.

Berikut adalah hadits-hadits yang dijadikan hujjah oleh salafy-wahaby yang sebenarnya memiliki matan munkar dan memiliki illat. :

.

Hadits 8.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﻤﻌﻤﺮﻱ ﺛﻨﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺛﻨﺎ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻮﻥ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻳﻤﻨﻨﺎ، ﻓﻘﺎﻟﻬﺎ ﻣﺮﺍﺭﺍً، ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ، ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ! ﻭﻓﻲ ﻋﺮﺍﻗﻨﺎ؟ ﻗﺎﻝ ﺇﻥّ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ، ﻭﺑﻬﺎ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

.

Hadits ini tidak shahih. !!

.

Hadits ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq.

Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal haditsnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti haditsnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Jika perawi seperti Ubadilillah ini menyelisihi perawi yang tsiqat maka haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah dan mesti ditolak.

Pernyataan bahwa hadits Ubadilillah tidak bertentangan melainkan menafsirkan hadits Najd sehingga Najd yang dimaksud adalah Iraq merupakan pernyataan yang bathil. Najd adalah Najd sedangkan Iraq adalah Iraq..

Najd yang dimaksud dalam hadits tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu para sahabat menyebutnya “Najd kami”.

Lihat saja matan haditsnya yang dengan jelas menyebutkan Negeri Syam dan Yaman kemudian sahabat bertanya bagaimana dengan Najd kami, jadi Najd disini adalah nama suatu negeri. Pada zaman itu tidak ada yang menyebut Iraq sebagai Najd bahkan telah terbukti dengan dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda. Jadi menyatakan Najd adalah Iraq jelas tidak berdasar sama sekali alias ngarang ngarang demi membela diri.!

.

Hadits 9.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﻗﺎﻝ ﻧﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻋﻠﻴﺔ ﻗﺎﻝ ﻧﺎ ﺍﺑﻲ ﻗﺎﻝ ﻧﺎ ﺯﻳﺎﺩ ﺑﻦ ﺑﻴﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﻧﺎ ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﺍﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺛﻢ ﺍﻧﻔﺘﻞ ﻓﺄﻗﺒﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻳﻨﺘﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻧﺎ ﻭﺻﺎﻋﻨﺎ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ ﻭﻳﻤﻨﻨﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺴﻜﺖ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻳﻨﺘﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻧﺎ ﻭﺻﺎﻋﻨﺎ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺣﺮﻣﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ ﻭﻳﻤﻨﻨﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﺛﻢ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺗﻬﻴﺞ ﺍﻟﻔﺘﻦ

.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

.

Hadits ini tidak shahih. !!

.

Hadits ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih haditsnya”. Bukhari berkata “dalam sanad haditsnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Perawi dengan kedudukan seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika ia meriwayatkan kabar yang menyelisihi kabar shahih kalau daerah yang dimaksud adalah Najd bukan Iraq sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’.

.

Hadits 10.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺿﻤﺮﺓ ﺑﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﻮﺫﺏ ﻋﻦ ﺗﻮﺑﺔ ﺍﻟﻌﻨﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﺳﺎﻟﻢ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻳﻨﺘﻨﺎ ﻭﻓﻲ ﺻﺎﻋﻨﺎ، ﻭﻓﻲ ﻣﺪِّﻧﺎ ﻭﻓﻲ ﻳﻤﻨﻨﺎ ﻭﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ . ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻓﻲ ﻋﺮﺍﻗﻨﺎ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

.

Tidak tidak ada masalah pada sanad hadits ini kecuali Taubah Al Anbary yang dikenal tsiqat tetapi dinyatakan mungkar al hadits oleh Al Azdy. Setelah diteliti kembali ternyata hadits ini juga mengandung illat [cacat] yaitu Ibnu Syaudzab tidak mendengar hadits ini dari Taubah Al Anbary, ia melakukan tadlis yaitu menghilangkan nama gurunya yang meriwayatkan dari Taubah Al Anbary.

Hadits dengan matan seperti di atas diriwayatkan juga dari Walid bin Mazyad Al Udzriy Al Bayruuti dari Abdullah bin Syaudzaab dari Abdullah bin Qasim, Mathr, Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbary dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/747, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/246 no 1276, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/133.

.

Hadits 11.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺰﻳﺪ ﺍﻟﺒﻴﺮﻭﺗﻲ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺃﺑﻲ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺃﺑﻲ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺷﻮﺫﺏ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻭﻣﻄﺮ ﺍﻟﻮﺭﺍﻕ ﻭﻛﺜﻴﺮ ﺃﺑﻮ ﺳﻬﻞ ﻋﻦ ﺗﻮﺑﺔ ﺍﻟﻌﻨﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻳﻨﺘﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻳﻤﻨﻨﺎ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺻﺎﻋﻨﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺪﻧﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺮﺍﻗﻨﺎ ﻓﺄﻋﺮﺽ ﻋﻨﻪ ﻓﺮﺩﺩﻫﺎ ﺛﻼﺛﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻋﺮﺍﻗﻨﺎ ﻓﻴﻌﺮﺽ ﻋﻨﻪ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

.

Dengan mengumpulkan semua hadits riwayat Ibnu Syaudzab maka diketahui kalau Ibnu Syaudzab terbukti melakukan tadlis. Riwayatnya dari Taubah Al Anbary dengan ‘an ‘anah ternyata ia dengar dari Syaikhnya Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl. Ada sedikit perbedaan lafaz antara riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah Al Anbary yaitu pada riwayat dimana Ibnu Syawdzab menyebutkan mendengar langsung dari Syaikhnya terdapat lafaz “ya Allah berilah keberkatan pada Mekkah kami” sedangkan pada riwayat an ‘an ah Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbary tidak terdapat lafaz tersebut.

.

Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal. Disini terdapat kemungkinan

Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.

Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadits tersebut dan matan hadits yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Abu Nu’aim ketika membawakan riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary, ia berkata :

.

ﻛﺬﺍ ﺭﻭﺍﻩ ﺿﻤﺮﺓ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﻮﺫﺏ ﻋﻦ ﺗﻮﺑﺔ ﻭﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺰﻳﺪ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺷﻮﺫﺏ ﻋﻦ ﻣﻄﺮ ﻋﻦ ﺗﻮﺑﺔ

.

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathr dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Setelah itu Abu Nu’aim mengutip riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya di atas. Jadi kemungkinan besar lafaz Iraq pada hadits ini berasal dari Mathr bin Thahman. Dan telah ditunjukkan bahwa riwayat yang tsabit sanadnya adalah riwayat shahih dari Nafi’ dengan lafaz Najd. Oleh karena itu matan hadits ini mungkar lafaz yang benar hadits ini adalah Najd dan lafaz Iraq kemungkinan berasal dari kesalahan perawinya yaitu Mathr bin Thahman syaikhnya Ibnu Syawdzab.

.

PERNGATN SALIM ATAS PENDUDUK IRAK

.

Ada hadits lain yang dijadikan hujjah salafy-wahaby untuk menyatakan kalau tempat tanduk setan yang dimaksud adalah Iraq yaitu hadits Salim bin Abdullah bin Umar berikut :

.

Hadits 12.

.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﺎﻥ ﻭﻭﺍﺻﻞ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻷﻋﻠﻰ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻮﻛﻴﻌﻲ ‏( ﻭﺍﻟﻠﻔﻆ ﻻﺑﻦ ﺃﺑﺎﻥ ‏) ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻦ ﻓﻀﻴﻞ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺳﺎﻟﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻘﻮﻝ ﻳﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻣﺎ ﺃﺳﺄﻟﻜﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﻭﺃﺭﻛﺒﻜﻢ ﻟﻠﻜﺒﻴﺮﺓ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺗﺠﺊ ﻣﻦ ﻫﻬﻨﺎ ﻭﺃﻭﻣﺄ ﺑﻴﺪﻩ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻧﺎ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﻳﻀﺮﺏ ﺑﻌﻀﻜﻢ ﺭﻗﺎﺏ ﺑﻌﺾ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺘﻞ ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺧﻄﺄ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ ﻟﻪ } ﻭﻗﺘﻠﺖ ﻧﻔﺴﺎ ﻓﻨﺠﻴﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻢ ﻭﻓﺘﻨﺎﻙ ﻓﺘﻮﻧﺎ { ‏[ 20 / ﻃﻪ / 40 ‏] ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻋﻦ ﺳﺎﻟﻢ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺳﻤﻌﺖ

.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar”[Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

.

Jika dilihat baik-baik tidak ada penunjukkan bahwa timur yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq. .

Disini Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan penduduk Iraq bahwa terdapat hadits Nabi akan ada fitnah yang datang dari arah timur. Oleh karena itu Salim memberi peringatan kepada penduduk Iraq agar mereka tidak menjadi fitnah yang dimaksud dalam hadits tersebut. Telah lazim kalau mengingatkan seseorang bukan berarti menuduh orang tersebut. Lagipula perkataan seorang tabiin tidaklah menjadi hujjah jika telah jelas dalil shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi Salim tidak mengetahui hadits shahih dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nafi’.

.

Hadits ini juga menjadi bukti kelemahan hadits Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary. Perhatikanlah hadits riwayat Muslim tersebut ia menggabungkan sanad hadits dimana ia mengambil hadits tersebut dari ketiga syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdul A’la dan Ahmad bin Umar. kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut.

.

Hadits 13.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻭﺍﺻﻞ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻮﻓﻲ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻦ ﻓﺼﻴﻞ ﻋﻦ ﺍﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺳﺎﻟﻢ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ – ﻳﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺗﺠﻲﺀ ﻣﻦ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ ﻭﺃﻭﻣﺄ ﺑﻴﺪﻩ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﻳﻀﺮﺏ ﺑﻌﻀﻜﻢ ﺑﻌﺾ ﺭﻗﺎﺏ ﺑﻌﺾ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺘﻞ ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺧﻄﺄ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ : } ﻭﻗﺘﻠﺖ ﻧﻔﺴﺎ ﻓﻨﺠﻴﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻢ ﻭﻓﺘﻨﺎﻙ ﻓﺘﻮﻧﺎ {

.

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

.

Jadi perkara perawi menggabungkan sanad para syaikh-nya dengan mengambil satu matan saja dari salah satu syaikh-nya adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadits. Jika semua syaikh-nya itu perawi yang tsiqat tsabit maka tidak ada masalah tetapi jika salah satu syaikh-nya dhaif atau banyak melakukan kesalahan maka lafaz matan tersebut mengandung kemungkinan dhaif. Inilah illat [cacat] yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab.

.

Selain itu bukti kalau hadits dengan lafaz Iraq [riwayat Ibnu Syawdzab] tidak tsabit sampai ke Salim bin ‘Abdullah dapat dilihat dalam hadits Muslim di atas dimana ketika Salim mengingatkan penduduk Iraq, ia malah membawakan hadits tanduk setan dengan lafaz timur. Kalau memang terdapat hadits tanduk setan dengan lafaz Iraq maka mengapa pada saat itu Salim bin Abdullah bin Umar tidak menyebutkan hadits itu, ia malah menyebutkan hadits tanduk setan dengan lafaz timur.

.

Bukankah sangat cocok kalau mau mengingatkan penduduk Iraq dengan hadits yang memang mengandung lafaz Iraq?.

Jadi Salim sendiri tidak mengetahui adanya hadits tanduk setan dengan lafaz Iraq sehingga ketika ia mengingatkan penduduk Iraq, ia malah mengutip hadits tanduk setan dengan lafaz timur.

.

Berdasarkan penjelasan di atas maka tempat yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat munculnya atau datangnya fitnah adalah Najd di sebelah timur Madinah. Hadits Najd telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih lagi tsabit sedangkan hadits Iraq diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dan mengandung illat [cacat]. Dengan menerapkan metode tarjih maka Hadits Najd lebih layak dijadikan pegangan sedangkan hadits Iraq tertolak dan matannya dinilai mungkar.

.

DEWAN FATWA ARAB PADA AKHIRNYA MENGAKUI

.

sebenarnya para ulama wahhabi-salafi yang bergabung dalam komisi tetap kajian ilmiyyah dan fatwa telah mengakui bahwa yang disebut masyriq dalam hadits shahih tentang Qornus syaitan adalah NAJD. Namun mereka enggan dan syok (terkejut) mengakuinya, sehingga mereka menutup-nutupinya dari para pengikutnya.

Berikut petikan hujjah-hujjah mereka dalam kitab Fatawa Al-Lajnah ad-Daimah jilid 3 fatwa nomer 6667 :

ﺱ؛ ﻣﺎ ﻫﻲ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻘﻮﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ .… ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ … ؟؟؟

ﺟـ ؛ ..… ﻭﻗﻴﻞ : ﻳﻌﻨﻲ ﻧﺠﺪ ﻣﺴﻜﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ ﻭﻣﻀﺮ ﻭﻫﻲ ﻣﺸﺮﻕ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺣﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : } ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺎﻣﻨﺎ ﻭﻓﻲ ﻳـﻤﻨﻨﺎ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻓﻲ ﻧﺠﺪﻧﺎ؟؟ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ : ﻫﻨﺎﻟﻚ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﻮﻥ ﻭﺑﻬﺎ ﻳﻄﻠﻊ ﻗﺮﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ {…

ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﻣﻦ ﻣﻀﺮ .… ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﻌﻢ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﺍﻷﺩﻧﻰ ﻭﺍﻷﻗﺼﻰ ﻭﺍﻷﻭﺳﻂ ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﺘﻨﺔ ﻣﺴﻴﻠﻤﺔ ﺍﻟﻜﺬﺍﺏ، ﻭﻓﺘﻨﺔ ﺍﻟﻤﺮﺗﺪﻳﻦ ﻣﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ ﻭﻣﻀﺮ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺰﻳﺮﺓ

Soal : Apakah fitnah yang dimaksud dalam Hadits Nabi Saw tentang tanduk syaitan ?

.

Jawab : dikatakan adalah yg dimaksud Najd tempat pemukiman bani Rabi’ah dan Mudhar, yaitu di daerah Timur. karena ada Hadits Ibnu Umar ketika Rasul Saw bersabda : ” Ya Allah berkahilah Syam kami dan Yaman kami, mereka berkata ” Dan juga Najd kami wahai Rasul maka Nabi menjawab ” Di sanalah muncul kegoncangan dan Tho’un dan juga di sanalah muncul tanduk syaitan “.

.

Penduduk timur saat itu dari kalangan Mudhar. Yang jelas adalah bahwasanya hadits tersebut mencangkup semua Timur, baik dataran rendah, tinggi maupun tengah. Di antara fitnahnya adalah Fitnah Musailamah Al-Kdzdzab dan fitnah murtadnya bani Rabi’ah dan Mudhar dan selain kedua kelompok tersebut di JAZIRAH ARAB “.

.

NAH LHO ??

.

Posisi tepatnya Najd dari citra satelit sbb :

.

najd terletak di MADRASAH RIYADH NAJD

tepatnya lokasinya di Jl. Imam Saud bin Abdul aziz bin Muhamad, Exit 9, depan Mall City Plaza.

orang orang disana mengakui sendiri disitu adalah wilayah Najd.itulah sebabnya madrasah disana menggunakan nama Madrasah Riyadh

.

Wahai Ustadz wahabi tidak Usah ngarang ngarang cerita lagi mau menipu umat.!

Kalian sudah terbukti selama ini memfitnah,memelintir,memanipulasi data,membodohi orang orang awam agar bisa kalian rekrut sebagai anggota golongan penipu.Kalian nyata memang ahlul fitnah tanduk syetan najd dgn dalih memurnian agama padahal kalianlah yang mengotori agama ini dgn perbuatan kalian yang tdk jujur,berbohong.

.

Aswaja menjadi besar karena kejujuran tdk perlu dana besar.semantara kalian mati matian mencari mengikut,membujuk mereka yang awam agar hadir di majelis dauroh kalian dgn biaya besar besaran.Kalian ibarat iklan berjalan berusaha memikat orang awam dgn motto yang luar biasa : Tegar diatas sunnah, bermanhaj salaf,sesuai quran dan hadits sahih..padahal contoh hadits irak yang banyak illat malahan kalian pakai buat menipu umat !!.

.

Wahabi awam !

Kalian ini tdak pernah mau meneliti,tidak mau mencerna bahkan seperti kehilangan akal setelah kalan ikuti majelis majelis wahabi.Jika sebelumnya kalian begitu baik menjalankan ukhuwah,tetapi setelah terjebak pemahaman wahabi,kalian terkucil,banyak musuh.dipandang aneh.bahkan kalian sendiri tdk tenang beribadah krn mau tdk mau kalian akhirnya ikut menjadi pembohong untuk selamatkan diri dgn alasan alasan klise dan takut disebut wahabi padahal wahabi !.

.

Tobat sajalah.Ajal tidak menunggu datangnya tobat !

.

By. Von Edison Alouisci

Kingstones street 24.4.2016

FP : www.facebook.com/von.edison.alouisci  


.LINK : 


https://www.facebook.com/von.edison.alouisci/posts/1117599298292568:0


Saturday, April 14, 2018

AKIDAH WAHABI ADALAH AKIDAH PALSU KAUM PENIPU

Posted by VON EDISON ALOUISCI 12:54 PM, under | No comments

AKIDAH WAHABI ADALAH AKIDAH PALSU KAUM PENIPU

.

(HUJAH DAN SANGGAHAN )

.

Penulis : Von Edison Alouisci

.

kali ini saya memperlihatkan pada anda semua kelicikan Ulama wahabi mengarahkan umat islam pada paham akidah yang menyimpang alias akidah mujasimah menyamakan Allah seperti sipat makhlukNya.

.

dimana mana wahabi awam seakan bangga bahwa akidah mereka sesuai dgn akidah kaum salaf padahal mereka ini tdak sadar sedang disesatkan oleh ulamanya. Anda bias lihat ketika wahabi mengemukan pendapat ulama madzab.. Abu hanifah, imam malik imam safii... Imam ahmad. Rujukan mereka dipastikan kitab buatan anyar albani cs. Dan albani sudah membuat maksud berbeda dari yang sebenarnya dgn mengubah,memotong,menghilangkan bagian tertentu atau membuat keterangan baru. Alhasil jadilah Akidah Ulama madzab sebagai AKIDAH WAHABI. Ini tentu kejahatan besar karna memfitnah Ulama madzab,menipu umat muslim secara luas. Dan tentu saja fitnah begini sulit di hapus karna kabnyakan wahabi yang yang tdk tahu apa apa.. turut aktip menyebarkan paham mereka berdsarkan kitab palsu. Dan jadilah pula mereka ini tangan tangan syetan..penyabar fitnah dari ulamanya. Pantas saja jika fitnah dari timur di lekatkan pada kaum wahabi,.

.

mari kita simak uraian saya berikut ini.:

.

Hujah wahabi :

.

1.PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH BERDSARKAN KITA SERVICE ALBANI

.

Imam Abu Hanifah (tahun 80-150 H) mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

.

ﻣﻦ ﺍﻧﻜﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ

.

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy]. KITAB SERVICE ALBANI.

.

PADAHAL PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH SEBENARNYA DALAM KITA YANG SAMA BERBEDA

.

Sanggahan saya (Von Edison Alouisci) :

.

Imam Abu Hanifah ra. Mengatakan bahwa kata Istiwa sudah dipahami. Bahkan Imam Abu Hanifah menolak mereka yang berpahaman Tajsim dan Tasybih sebagaimana tertuang dalam kitab beliau Fiqh al Akbar:

.

Berkata Imam Abu Hanifah: “Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak metetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukanarasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pastidia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti juga makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptakan Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yangdemikian”

.

Hujjah wahabi :

.

2.PENDAPAT IMAM MALIK BIN ANAS MENURUT KITAB SERVICE ALBANI

.

Imam Malik bin Anas (tahun 93-179 H),

.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan ayahku, kemudian ia menyebutkan sanadnya dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Malik bin Anas :

.

ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ، ﻭﻋﻠﻤﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻜﺎﻥ، ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻣﻨﻪ ﺷﻲﺀ .

.

“Allah berada di atas langit, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”. [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, Al-Aajuriiy hal. 289, dan Al-Laalikaa’iy 1/92/2 dengan sanad shahih – dinukil melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].

.

PADAHAL DALAM KITAB ORIGINAL LAIN SEBENARNYA MALAHAN BERBEDA

.

Sanggahan saya (Von Edison Alouisci) :

.

IMAM MALIK IBN ANNAS Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata: “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena "bagaimana" (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)".

.

Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

.

Hujjah wahabi :

.

3.PENDAPAT IMAM SAFII BERDSARKAN KITAB SERVICE ALBANI

.

Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’I, tahun 150-204 H).

.

Syaikhul Islam berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la Al Kholil bin Abdullah Al Hafizh, beliau berkata bahwa telah memberitahukan kepada kami Abul Qosim bin ‘Alqomah Al Abhariy, beliau berkata bahwa Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Roziyah telah memberitahukan pada kami, dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, beliau berkata,

.

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻧﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺭﺃﻳﺖ ﺍﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺭﺃﻳﺘﻬﻢ ﻓﺄﺧﺬﺕ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﺍﻹﻗﺮﺍﺭ ﺑﺸﻬﺎﺩﺓ ﺍﻥ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺫﻛﺮ ﺷﻴﺌﺎ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻭﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺮﺷﻪ ﻓﻲ ﺳﻤﺎﺋﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﻛﻴﻒ ﺷﺎﺀ ﻭﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻨﺰﻝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻛﻴﻒ ﺷﺎﺀ ﻭﺫﻛﺮ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ

.

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya. [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165]

.

PADAHAL PENDAPAT IMAM SAFII BERDASARKAN KITAN ORIGINAL BERBEDA

.

Sanggahan saya (Von Edison Alouisci) :

.

Syafi’i, berkata: Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

.

dalam kitab tauhid “AL-KAWKABUL AZHAR SYARAH AL-FIQHUL AKBAR “ karya Imam Syafi’i sebagai berikut:

.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻴﻊ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻓﺎﻥ ﻗﻴﻞ : ﺃﻟﻴﺲ ﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ ‏) ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺸﺎﺑﻬﺎﺕ ﻭ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺨﺘﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻨﻬﺎ ﻭ ﻋﻦ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺘﺒﺤﺮ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻤﺮ ﺑﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﻭ ﻻ ﻳﺒﺤﺚ ﻋﻨﻬﺎ ﻭ ﻻ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺄﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ ﻓﻰ ﻭﺭﻃﺔ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺭﺍﺳﺨﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ . ﻭ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻰ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻭ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻮﻳﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻭ ﻻ ﻳﺠﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺯﻣﺎﻥ ﻣﻨﺰﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻭ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺎﺕ ﻣﺴﺘﻐﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭ ﺍﻟﺠﻬﺎﺕ ﻭ ﻳﺘﺨﻠﺺ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺎﻟﻚ ﻭ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ . ﻭ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺯﺟﺮ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺟﻼ ﺣﻴﻦ ﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺔ ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻣﺬﻛﻮﺭ ﻭ ﺍﻟﻜﻴﻔﻴﺔ ﻣﺠﻬﻮﻟﺔ ﻭ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ ﻭﺍﺟﺐ ﻭ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭ ﺍﻥ ﻋﺪﺕ ﺍﻟﻰ ﻣﺜﻠﻪ ﺃﻣﺮﺕ ﺑﻀﺮﺏ ﺭﻗﺒﺘﻪ . ﺃﻋﺎﺫﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻳﺎﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ

.

Berkata Imam Syafi’i, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan: Tidakkah Allah ta’ala berfirman:

ﺍﻟﺮﺟﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ

Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud dan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini. Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.

Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi’tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.

Oleh karena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.

Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !

{Keterangan dari kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, halaman 68, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon.

.

Imam safii juga berkata "Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), maka kafir.

.

Hujjah wahabi :

.

4.PENDAPAT IMAM AHMAD BIN HAMBAL MENURUT KITAB SERVICE ALBANI

.

Imam Ahmad bin Hambal (tahun 164-241 H).Beliau pernah ditanya,

.

ﻣﺎ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻜﻢ ﺃﻳﻨﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﻭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻧﺠﻮﻯ ﺛﻼﺛﻪ ﺍﻻ ﻫﻮ ﺭﺍﺑﻌﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻤﻪ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ ﻭﺍﻟﺸﻬﺎﺩﻩ ﻋﻠﻤﻪ ﻣﺤﻴﻂ ﺑﻜﻞ ﺷﻲﺀ ﺷﺎﻫﺪ ﻋﻼﻡ ﺍﻟﻐﻴﻮﺏ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ ﺭﺑﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺑﻼ ﺣﺪ ﻭﻻ ﺻﻔﻪ ﻭﺳﻊ ﻛﺮﺳﻴﻪ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ

.

“Apa makna firman Allah,

.

ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ

.

“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.” [QS. Al Hadiid: 4]

.

ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣِﻦْ ﻧَﺠْﻮَﻯ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺭَﺍﺑِﻌُﻬُﻢْ

.

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” [ QS. Al Mujadilah: 7]

.

Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.” [Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116].

.

PADAHAL DALAM KITAB LAIN BERBEDA

.

Sanggahan saya (Von Edison Alouisci) :

.

As-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih. Dalam pada ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:

.

ﻭَﻣَﺎ ﺍﺷْﺘُﻬِﺮَ ﺑَﻴْﻦَ ﺟَﻬَﻠَﺔِ ﺍﻟْﻤَﻨْﺴُﻮْﺑِﻲْﻥَ ﺇﻟَﻰ ﻫﺬَﺍ ﺍﻹﻣَﺎﻡِ ﺍﻷﻋْﻈَﻢِ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪِ ﻣِﻦْ ﺃﻧّﻪُ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﺑِﺸَﻰﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻬَﺔِ ﺃﻭْ ﻧَﺤْﻮِﻫَﺎ ﻓَﻜَﺬِﺏٌ ﻭَﺑُﻬْﺘَﺎﻥٌ ﻭَﺍﻓْﺘِﺮَﺍﺀٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ .

.

“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144)

.

dari Uraian diatas jelas bahwa wahabi BERKIDAH PENUH KEPALSUAN.karna dasarnya mereka menggunakan sumber palsu. Kelihatan Asli tapi palsu. Coba anda pikr.. akidah itu adalah keyakinan vital seorang muslim dan tentu harus benar benar diyakini dari sumber yang benar.jk tdk maka kita sebenarnya tdk tahu siapa yang layak disembah.

.

Al-hafizh ibn al-jawzi telah berkata di dalam kitabnya Daf’u Syibh at-Tasybih:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyifatkan Allah dengan tempat dan arah, maka sesungguhnya dia termasuk Musyabbih dan Mujassimah yang tidak mengerti sifat Allah”

.

Pada akhirnya saya mau katakan bahwa wahabi memang ahlul fitnah nejed,,memfitnah ulama madzab,berakidah palsu karna sumbernya palsu.

Wahabi pembohong besar dimana mana dg taqiyah menyebarkan paham paham palsunya.intaha.

.

By. Von Edison Alouisci

kingstones steet. Ramadhan 24.6.2015

FP : www.facebook.com/von.edison.alouisci

.

NB. DIHARAPKAN SHARE/SEBARKAN ( amanah) . jangan sampai teman,saudara anda terjebak akidah palsu karna tipuan wahabi awam yang tahunya kopas dalil PALSU diatas..

.

tag.


Wednesday, February 20, 2013

SIKAP JUJUR

Posted by VON EDISON ALOUISCI 7:21 PM, under ,, | No comments


berdasarkan penjelsanSyeikh Abul Qasim al-Qusyairy


Allah swt. berfirman:
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (Q.s. At-Taubah: 119).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur; dan jika ia tetap berbuat dusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kejujuran (shidq) adalah tiang penopang segala persoalan, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan ini tercapai, dan melaluinya pula ada tata aturan. Kejujuran mengiringi derajat kenabian, sebagaimana difirmankan Allah swt.:
“…maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dan orang-orang yang menetapi kejujuran (shiddiqin), para syuhada’ dan orang orang saleh.” (Q.s. An-Nisa’: 69).
Kata shadiq (orang yang jujur) berasal dari kata shidq (kejujuran) Kata shiddiq adalah bentuk penekanan (mubalaghah) dari shadiq, dan berarti orang yang didominasi oleh kejujuran. Demikian juga halnya dengan kata-kata lain yang bermakna penekanan, seperti sikkir dan pemabuk, yang penuh anggur (khimmir).
Derajat terendah kejujuran adalah bila batin seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shadiq adalah orang yang benar dalam kata-katanya. Shiddiqy adalah orang yang benar-benar jujur dalam semua kata-kata, perbuatan dan keadaan batinnya.
Ahmad bin Khadhrawaih mengajarkan, “Barangsiapa ingin agar Allah bersamanya, hendaklah ia berpegang teguh pada kejujuran, sebab Allah swt. bersama-sama orang yang jujur.”
Al-Junayd berkata, “Orang yang jujur berubah empatpuluh kali dalam sehari, sedangkan orang riya’ tetap berada dalam satu keadaan selama empatpuluh tahun.”
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, “Jika orang yang jujur ingin menggambarkan apa yang ada dalam hatinya, maka lisannya tidak akan mengatakannya.”
Dikatakan, “Bersikap jujur berarti menegaskan kebenaran, meskipun terancam kebinasaan.”
An-Naqqad mengatakan, “Sikap jujur berarti mencegah kedua rahang (syidq) dari mengucapkan apa yang terlarang. “
Abdul Wahid bin Zaid berkomentar, “Sikap benar adalah kepada Allah swt. dalam tindakan.”
Sahl bin Abdullah mengatakan, “Seorang hamba yang menipu diri sendiri atau orang lain tidak akan mencium harum semerbaknya kebenaran. “
Abu Sa’id al-Qurasyi mengatakan, “Orang yang jujur adalah orang yang siap mati dan tidak akan malu jika rahasianya diungkapkan. Allah swt. berfirman, “Maka inginkanlah kematian, jika kamu orang orang yang jujur.” (Q.s. Al Baqarah: 94).”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Suatu hari Abu Ali ats-Tsaqafy sedang memberikan pelajaran, tiba-tiba Abdullah bin Munazil berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Ali, siapkanlah diri Anda untuk mati, sebab tidak ada jalan untuk lari darinya.’ Abu Ali menjawab, ‘Dan Anda, wahai Abdullah, siapkanlah diri untuk mati, sebab tidak ada jalan lari darinya.’ Maka di saat itulah Abdullah merebahkan diri, membentangkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya dan mengatakan, Aku mati sekarang.’ Abu Ali pun diam terpaku karenanya, dimana dirinya tidak mampu menandingi apa yang dilakukan Abdullah karena Abu Ali masih terpaut pada dunia, sedangkan Abdullah telah terbebas dari ikatan dunia.”
Ahmad bin Muhammad ad-Dainury sedang berbicara di hadapan sekumpulan orang ketika seorang wanita di antara mereka berteriak. Abul Abbas memarahinya dengan kata-kata, ‘Matilah engkau!’ Wanita itu bangkit, maju beberapa langkah, berpaling kepadanya dan berkata, ‘Aku telah mati.’ Kemudian ia jatuh ke tanah dan mati.
Al-Wasithy berkata, “Kejujuran adalah keyakinan yang kokoh terhadap tauhid bersama-sama dengan mati.”
Dikatakan, ‘Abdul Wahid bin Zaid memandang kepada seorang pemuda di antara para sahabatnya, yang bertubuh kurus kering, dan Abdul Wahid bertanya kepadanya, ‘apakah engkau telah terlalu lama memperpanjang puasamu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Aku juga. Bukan memperpanjang berbuka.’ Kemudian Abdul Wahid bertanya, ‘Apakah engkau telah memperpanjang waktu bangun untuk shalat malammu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Bukan, bukan pula aku telah memperpanjang tidur.’ Lalu Abdul Wahid pun bertanya, Apa yang telah membuatmu begitu kurus?’ Pemuda itu menjawab, ‘Hasrat yang selalu berkobar dan rahasia terpendam yang abadi. ‘Abdul Wahid berseru, ‘Dengarlah, betapa beraninya pemuda ini!’ Pemuda itu lalu berdiri, maju dualangkah dan berteriak, ‘Ya Allah, jika aku memang tulus, ambillah nyawaku sekarang juga!’ lalu ia pun jatuh dan meninggalkan dunia ini.
Abu Amr az-Zujajy menuturkan, “Ibuku meninggal, dan aku mewarisi sebuah rumah beliau. Aku menjualnya dengan harga limapuluh dinar dan kemudian berangkat menunaikan ibadah haji.” Setiba di Babilonia, seorang penggali saluran air bertanya kepadaku, ‘Apa yang engkau bawa?’ Aku berkata dalam hati, ‘Kejujuran adalah yang terbaik’ dan aku menjawab, ‘Uang limapuluh dinar.’ Ia berkata, ‘Serahkanlah kepadaku!’ Maka aku pun memberikan kantong uangku kepadanya. Dihitungnya jumlah semua uang di dalamnya, dan ternyata memang ada limapuluh dinar. Berkatalah ia, ‘Ambillah kembali uangmu! Kejujuranmu menyentuh hatiku.’ Lalu ia turun dari kudanya dan berkata, ‘Naiklah kudaku!’ Aku balik berkata, ‘Aku tidak menginginkannya.’ Ia berkata, ‘Harus …!’ dan terus memaksaku menaiki kudanya. Akhirnya setelah aku bersedia naik di atasnya, ia berkata, ‘Aku di belakangmu.’ Satu tahun kemudian ia berhasil menyusulku, dan tinggal bersamaku hingga akhir hayatnya.”
Ibrahim al-Khawwas menjelaskan, “Orang jujur tidak memandang kecuali kewajiban yang harus ditunaikan, atau ibadat utama bagi Allah swt.”
Al-Junayd berkata, “Inti kejujuran adalah bahwa engkau berkata jujur di wilayah yang apabila seseorang berkata jujur tidak akan selamat kecuali berdusta.”
Dikatakan, “Tiga hal tidak pernah lepas dari seorang: jujur ucapannya, kehadiran yang kharismatis dan pancaran taat di wajahnya. “
Dikatakan pula, “Allah swt. bersabda kepada Daud as, ‘Wahat Daud, barangsiapa menerima apa yang Kukatakan dengan sejujurnya dalam batinnya, niscaya Aku akan mengukuhkan sifat juiur di kalangan makhluk manusia dalam lahiriahnya’.”
Dikisahkan Ibrahim bin Dawhah memasuki padang pasir bersama Ibrahim bin Sitanbah. Kata Ibnu Dawhah, “Ibnu Sitanbah mengatakan kepadaku, ‘Campakkanlah segala apa yang mengikatmu!’ Aku melemparkan segala sesuatu yang ada padaku, kecuali uang satu dinar. Lalu ia berkata, ‘Wahai Ibrahim, janganlah engkau membebani pikiranku! Campakkanlah keterikatanmu!’ Maka dinar itu pun lalu kulemparkan. Tapi lagi-lagi ia mengatakan, ‘Wahai Ibrahim, campakkanlah keterikatanmu!’ Lalu aku ingat bahwa aku masih memiliki beberapa utas tali sandal cadangan, yang lalu kulemparkan juga. Selanjutnya, dalam perjalananku, setiap kali aku memerlukan tali sandal, maka muncullah seutas tali sandal di hadapanku. Ibrahim bin Sitanbah mengatakan, ‘Inilah orang yang beramal dengan Allah swt. secara jujur’.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata, “Kejujuran adalah pedang Allah. Tidak satu pun diletakkan padanya, kecuali akan memotongnya.”
Sahl bin Abdullah mengatakan, ‘Awal pengkhianatan orang-orang jujur adalah munculnya keraguan dengan dirinya.”
Ketika ditanya tentang kejujuran, Fath al-Maushaly memasukkan tangannya ke dalam bara api seorang tukang besi, mengambil sebatang besi yang merah membara, meletakkannya di telapak tangannya dan berkata, “Inilah kejujuran!”
Yusuf bin Asbat berkata, “Aku lebih suka menghabiskan waktu semalam bersamaAllah swt. dalam kejujuran jiwa daripada berperang dengan pedangku dijalan-Nya.”
Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan, “Kejujuran adalah seperti engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu.”
Ketika al-Harits al-Muhasiby ditanya tentang tanda-tanda kejujuran, ia menjawab, “Orang yang jujur adalah orang yang manakala tidak peduli akan ketergantungan kalbu manusia kepada dirinya, tidak pula senang atas jasanya kepada manusia untuk dilihat, dan yang tidak peduli apakah popularitasnya di antara manusia akan lenyap. Ia bahkan tidak membenci bila perbuatan buruknya dilihat oleh orang banyak. Jika ia benci, ia perlu menambah imannya. Dan yang demikian itu bukanlah ciri akhlak orang orang jujur.”
Salah seorang Sufi berkomentar, “Jika seseorang tidak memenuhi satu kewajiban agama yang abadi, maka pelaksanaan kewajiban-kewajiban agamanya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tidak akan diterima.” Seseorang bertanya, ‘Apakah kewajiban agama yang abadi itu?” Ia menjawab, “Kejujuran.”
Dikatakan, “Jika engkau mencari Allah swt. dalam kejujuran, niscaya Dia akan memberimu cermin yang di dalamnya engkau akan melihat semua keajaiban dunia dan akhirat.”
Dikatakan, “Engkau harus berlaku jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakanmu, padahal itu akan bermanfaat bagimu. Janganlah mempu ketika engkau mengira hal itu akan menguntungkanmu, padahal pasti ia akan merugkanmu.”
Dikatakan juga, “Tiap-tiap sesuatu punya arti, tapi persahabatan seorang pendusta tidak berarti apa-apa.”
Dikatakan, “Tanda seorang pendusta adalah kegairahannya untuk bersumpah sebelum hal itu dituntut darinya.”
Ibnu Sirin mengatakan, “Lingkup pembicaraan itu demikian luas hingga (sebetulnya) orang tldak perlu berdusta.
Dikatakan, “Seorang pedagang yang jujur tidak pernah melarat.”

SIKAP IKHLAS

Posted by VON EDISON ALOUISCI 7:16 PM, under | No comments


Berdasarkan penjelasan Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik).” (Q.s. Az Zumar: 3).
Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: IkhIas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim.” (H.r. Ahmad, dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar).

Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya sesembahan. Sikap taat dimaksudkan adalah taqarrub kepada Allah swt, mengesampingkan yang lain dari makhluk, apakah itu sifat memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia. Ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah swt. semata. Dapat dikatakan, “Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk” Dikatakan juga, “Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia.”
Nabi saw. ditanya, apakah ikhlas itu? Nabi saw. bersabda:
‘Aku bertanya kepada Jibril as. tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya?’Allah swt. menjawab, ‘Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.” (H.r. Al Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, dan sifat shidq berarti membersihkan diri dari kesadaran akan diri sendiri. Orang yang ikhlas tidaklah bersikap riya’ dan orang yang jujur tidaklah takjub pada diri sendiri.”
Dzun Nuun al-Mishry berkomentar, “Keikhlasan hanya tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menetapi dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus-menerus.”
Abu Ya’qub as-Susy mengatakan, “Apabila mereka melihat keikhlasan di dalam keikhlasannya, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan lagi.”
Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, ‘Ada tiga tanda keikhlasan: Manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya.”
Abu Utsman al-Maghriby mengatakan, “Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlas orang awam. Mengenai ikhlas manusia pilihan (khawash), keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka menyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri, tidak pula, peduli terhadap amalnya. Itulah keikhlasan kaum pillhan.”
Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan, “Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan keikhlasannya itu, jika Allah swt. menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, dia akan mengugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri dan jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan Allah swt. (mukhlash), bukannya berikhlas (mukhlish).”
Sahl berkata, “Hanya orang yang ikhlas (mukhlish) sajalah yang mengetahui riya’.”
Abu Sa’id al-Kharraz menegaskan, “Riya’ kaum ‘arifin lebih baik daripada ikhlas para murid.”
Dzun Nuun berkata, “Keikhlasan adalah apa yang dilindungi dari kerusakan musuh.”
Abu Utsman mengatakan, “Keikhlasan adalah melupakan pandangan makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada Khalik.”
Hudzaifah al-Mar’asyi berkomentar, “Keikhlasan berarti bahwa perbuatan-perbuatan si hamba adalah sama, baik lahir maupun batinnya.”
Dikatakan, “Keikhlasan adalah sesuati yang dengannya Allah swt. berkehendak dan dimaksudkan tulus dalam ucapan serta tindakan.”
Dikatakan pula, “Keikhlasan berarti mengikat diri sendiri pada kesadaran akan perbuatan baik”
As-Sary mengatakan, ” Orang yang menghiasi dirinya di hadapan manusia dengan sesuatu yang bukan miliknya, berarti tercampak dari penghargaan Allah swt.”
Al-Fudhail berkata, “Menghentikan amal-amal baik karena manusia adalah riya’, dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkanmu dari dua penyakit ini.”
Al-junayd mengatakan, “Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya.”
Ruwaym menjelaskan, “Ikhlas dalam beramal kebaikan berarti bahwa orang yang melakukannya tidak menginginkan pahala, baik di dunia maupun di akhirat.”
Dikatakan kepada Sahl bin Abdullah, ‘Apakah hal terberat pada diri manusia?” Ia menjawab, “Keikhlasan, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya.”
Ketika ditanya tentang ikhlas, salah seorang Sufi menjawab, “Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah swt. untuk menjadi saksi atas perbuatanmu.”
Salah seorang Sufi menuturkan, “Aku menemui Sahl bin Abdullah pada hari jum’at di rumahnya sebelum shalat. Ada seekor ular di rumahnya, hingga aku ragu-ragu berdiri di pintu. Ia berseru, ‘Masuklah! Tidak seorang pun dapat mencapai hakikat iman jika ia masih takut pada sesuatu pun di atas bumi.’ Kemudian ia bertanya, Apakah engkau hendak mengikuti shalat jum’at?’ Aku menjawab, jarak dari sini ke masjid di depan kita adalah sejauh perjalanan sehari semalam.’ Maka Sahl lalu menggandeng tanganku, dan sesaat kemudian kami telah berada di masjid itu. Kami masuk ke dalam dan shalat, kemudian keluar. Sahl berdiri di sana, melihat ke arah orang banyak, dan berkata, ‘Banyak orang mengucapkan Laa i1aaha illallaah, tapi yang ikhlas amatlah sedikit’.”
Makhul berkata, “Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama empatpuluh hari, kecuali akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari hati pada lisannya.”
Yusuf bin al-Husain berkomentar, “Milikku, yang paling berharga di atas dunia ini adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah berjuang untuk membebaskan hatiku dari riya’, namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dalam warna yang lain!”
Abu Sulaiman berkata, “Jika seorang hamba berikhlas, maka terpotonglah waswas dan riya’.”

Saturday, December 29, 2012

MENGGAPAI CINTA ALLAH

Posted by VON EDISON ALOUISCI 7:41 PM, under ,, | No comments


Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."

Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.

Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : /Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."/

Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.

Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal danmampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".

2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.

3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".

4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.

5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.

6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.

8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.

9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.

10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.

(Disarikan oleh Muhammad Dzaki Ismail)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

like this ??

Coment via Fecebook

TRANSLATOR ONLINE

Tags

Blog Archive